
Tiga Bara — Briket Arang Kelapa
Inovasi energi bersih ramah lingkungan yang diolah dari limbah tempurung kelapa warga Padukuhan Tigaron.
Solusi Energi Berkelanjutan
Padukuhan Tigaron memiliki perkebunan kelapa yang luas dengan produksi kopra yang melimpah. Tempurung kelapa selama ini belum termanfaatkan secara optimal dan sering kali hanya dibakar terbuka atau menjadi limbah pekarangan.
Melalui program kerja inovasi mahasiswa KKN UII Unit 217, limbah tempurung tersebut diolah menjadi Tiga Bara — briket arang sebagai prototipe briket yang sedang dikembangkan. Sasaran pengembangannya meliputi panas stabil, kadar abu rendah, dan bahan tanpa tambahan kimia. Produk ini ditujukan untuk kebutuhan memanggang (BBQ), memasak rumah tangga, hingga potensi pasokan kuliner sate dan angkringan.
Keunggulan yang Sedang Dituju
Karakteristik berikut adalah sasaran produk dan belum boleh dianggap sebagai hasil uji atau jaminan kinerja.
Panas Stabil & Tahan Lama
Ditargetkan menghasilkan panas yang stabil hingga 2.0 – 3.0 Jam. Durasi aktual perlu dikonfirmasi melalui pengujian.
Minim Asap & Tidak Berbau
Proses karbonisasi dirancang untuk menghasilkan pembakaran yang lebih bersih. Klaim asap dan bau tetap menunggu pengujian produk.
Kadar Abu Rendah
Kadar abu ditargetkan < 5%. Angka ini belum menjadi spesifikasi resmi sebelum pengujian selesai.
100% Bahan Alami
Menggunakan 100% Tempurung Kelapa dengan perekat Tepung Tapioka Alami (Tanpa Kimia).
Ekonomi Sirkular
Mengurangi limbah padat perkebunan kelapa di Tigaron sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi pemuda dan warga.
Harga Bersaing
Harga sementara Rp 10.000 / kg masih menunggu perhitungan HPP dan BEP.
Rancangan Proses Pembuatan Briket
Alur kerja yang digunakan sebagai panduan pengembangan. Standardisasi proses dan pengendalian mutunya perlu ditetapkan setelah uji produksi.
1. Pengumpulan & Sortasi Bahan Baku
Mengumpulkan limbah tempurung kelapa hasil sampingan pengolahan kopra warga Tigaron. Bahan disortir dan dibersihkan dari sisa sabut berlebih.
2. Karbonisasi (Pengarangan)
Pembakaran tertutup dengan metode pirolisis minim oksigen untuk menghasilkan arang tempurung yang matang merata tanpa menjadi abu.
3. Penepungan & Pengayakan
Arang tempurung ditumbuk/digiling hingga halus lalu diayak dengan mesh terstandar agar menghasilkan serbuk arang bertekstur homogen.
4. Pencampuran Perekat Alami
Serbuk arang dicampur dengan pasta tepung tapioka alami dengan rasio takaran yang presisi untuk daya rekat yang kokoh.
5. Pencetakan & Pemadatan
Adonan dipadatkan menggunakan alat pencetak bertekanan tinggi menjadi bentuk silinder / balok heksagonal yang seragam.
6. Pengeringan & Pengemasan
Briket basah dijemur di bawah sinar matahari atau dioven hingga kadar air turun di bawah 8%, kemudian dikemas rapi dalam kemasan “Tiga Bara”.
Spesifikasi & Informasi Produk
Parameter teknis produk briket arang tempurung kelapa Tiga Bara; baca status validasinya sebelum menggunakan data.
Status spesifikasi: Target—belum teruji. Harga juga berstatus target sampai kalkulasi HPP/BEP selesai. Seluruh angka kinerja dan harga yang ditampilkan masih berupa target sampai pengujian produk serta perhitungan HPP/BEP selesai.
| Parameter | Spesifikasi |
|---|---|
| Bahan Baku Utama | 100% Tempurung Kelapa |
| Bahan Perekat | Tepung Tapioka Alami (Tanpa Kimia) |
| Waktu Bakar | 2.0 – 3.0 Jam |
| Kadar Abu | < 5% |
| Nilai Kalori | > 6.500 kkal/kg |
| Kadar Air | < 8% |
| Kemasan Tersedia | 1 kg, 5 kg, dan kemasan curah UMKM |
Karya Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu Unit 217 UII
Produk ini merupakan integrasi dari 4 bidang keilmuan:
- Teknik Lingkungan: Rekayasa pengolahan limbah & proses pirolisis ramah lingkungan.
- Manajemen: Perancangan identitas merek, kemasan, dan strategi pemasaran produk.
- Akuntansi: Analisis struktur HPP, penetapan titik impas (BEP), dan kalkulasi harga jual.
- Statistika (Hilal): Pemetaan potensi bahan baku, pemodelan data, dan perancangan portal web resmi.
Dukung Produk Lokal Tigaron
Hubungi Karang Taruna dan pengelola produk Tiga Bara untuk pemesanan, uji coba sampel, atau kerja sama pasokan UMKM.
